Sunday, May 7, 2017

Lodok, Sawah 'Jaring Laba-Laba' yang Mempesona Di Desa Cancar Ruteng

Lodok, Sawah 'Jaring Laba-Laba' yang Mempesona Di Desa Cancar Ruteng
  Deretan petak sawah yang membentuk seperti jaring laba-laba di Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Flores.

Flobamorapedia - Flores, adalah satu pulau permai yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kecantikan pulau ini tampak luar biasa saat dipandang dari udara, ketika pesawat perlahan menurunkan ketinggiannya untuk mendarat di  Bandara Komodo Labuan Bajo.

Gugusan kepulauan sunda kecil ini bertaburan oleh lembah dan gunung api. Itu sebabnya keindahan topografi pulau ini begitu menakjubkan. Flores, seolah keajaiban yang tak akan pernah selesai dijelajahi.

Perjalanan dari Manggarai Barat, daerah pesisir pantai yang kering dan terik, menuju Manggarai Timur, wilayah pegunungan berhawa sejuk, terhampar jejeran bukit, lembah dan gunung, menjulang tinggi, tapi tak berdaya terselimuti kabut dan awan badai kelabu.


Pematang sawah terhampar luas di kaki bukit Kampung Melo, Manggarai Barat. Februari padi-padi di sini masih hijau, menunggu waktu panen di bulan Mei. Permadani hijau ini bergerak-gerak seperti gelombang laut tertiup embusan angin lembah.

Sawah bagi masyarakat Manggarai bukan sekadar tempat menanam padi. Begitu dihargai sawah sebagai penopang kehidupan, maka sawah harus diatur oleh adat dan istiadat yang sarat makna dan filosofi.

Nenek moyang orang Manggarai sudah menerapkan sistem pembagian sawah yang disebut lingko. Lingko adalah tanah adat yang dimiliki secara komunal untuk memenuhi kebutuhan bersama masyarakat.

Tanah lingko menjadi daya tarik yang luar biasa. Para pelancong melihat lingko sebagai keunikan yang tiada bandingnya. Salah satu keajaiban lingko adalah terletak di desa Cancar, Kabupataen Manggarai Timur.

Di Cancar, ada persawahan dengan bentuk seperti jaring laba-laba raksasa yang mengundang rasa ingin tahu banyak orang. Cancar adalah kawasan paling dekat dengan ibukota Manggarai Timur, Ruteng, untuk melihat pembagian tanah lingko ini, sekitar empat puluh lima menit.


Meresapi keindahan flores dari atas bukit

Para pengunjung harus mendaki bukit sekitar dua ratus meter dahulu untuk melihat pemandangan persawahan berbentuk jaring laba-laba.

Di bawah kaki bukit, berdiri rumah sederhana keluarga Mama Susana, beserta ternak babi dan ayam milik keluarganya. Rumah mama ibarat gerbang dimulainya pendakian pendakian ke puncak bukit kecil Cancar.

“Pembagian lodok seperti itu karena kurang manusia. Iya, kurang manusia dulu, sudah ratusan tahun sawah laba-laba itu. Lodok sudah dibagikan sejak zaman jajah Belanda,” kata Mama bercerita tentang asal muasal sistem pembagian sawah jaring laba-laba.

Setiap kampung di Manggarai Timur memiliki pembagian lodok ini, tetapi hanya di Cancar, lokasi dengan pemandangan terbaik untuk menyaksikan sawah berbentuk jaring laba-laba.

“Di (kampung) Dalo ada, tapi tidak ada tempat pemandangannya. Hanya di sini saja yang ada bukit sedikit. Di sini tempat yang paling banyak lingko lodok. Kalau di kampung yang lain sebatas satu hektar, di sini banyak sekali,” ucap Mama.

Jalan setapak selebar dua meter mengawali medan perjalanan. Ada suara berisik, seperti bunyi televisi ketika mengakhiri siaran, menggema keras dari balik pepohonan rimbun di udara. Suara kencang seperti desisan ini tidak bunyi sekali-sekali, melainkan terus tanpa jeda.

Suara itu berasal dari dari hewan sejenis serangga bersuara nyaring, tonggeret. Biasanya serangga ini muncul di akhir musim penghujan, ketika hangatnya sinar matahari mulai menyirami rumah mereka di belantara raya. Dari balik hutan kopi rimbun ini, suara tonggeret bak buaian orkestra alam.

Pendakian kecil ini cukup membuat napas tersengal-sengal, bagi yang mereka yang tidak biasa berolahraga mendaki. Namun, buat apa terburu-buru ketika Anda sedang berdiri di tengah-tengah surga? Yang harus dilakukan, cukup diam, meresapi sejenak keindahan ibu pertiwi.

Deretan puncak gunung, punggungnya disentuh gumpalan awan putih, langit biru cerah, atap-atap rumah penduduk menyebar di tengah bentangan pematang sawah, dan suara kesunyian.

Hanya kedengaran teriakan kukuruyuk ayam peliharaan penduduk di kaki bukit, juga deru sebuah sepeda motor yang melintasi jalan raya kosong pembelah desa Cancar.

Keajaiban sawah raksasa jaring laba-laba

Sampai juga di puncak tertinggi bukit. Di sini, panorama terbaik sawah berbentuk jaring laba-laba yang sedang kami kejar berada. Sawah tradisional petani Manggarai ini bukan circle crop buatan makhluk luar angkasa. Tangan manusia yang sudah menciptakan sudut dan garis lurus demikian presisi ini.

Padi harus ditanam dengan sangat rapi. “Orang yang kerja itu harus rapi dengan warisan (sawahnya). Batasnya dengan di sebelah-sebelah itu harus lurus,” kata Mama Susana. Orang-orang tua dulu, Mama melanjutkan, mengukur dengan tali yang rentangnya harus lurus.

“Ini orang tua punya warisan, pematang jadi batas sawah, dari lodok (pusat sawah) sampai cicing (bagian terluar sawah).”

Pada masing-masing pusat sawah, terdapat teno, yakni kayu yang menjadi titik pusat ditariknya garis menuju batas terjauh. Pusat ini juga disebut lodok. Tu’a teno atau tuan tanah biasanya mendapatkan bagian terbesar.

“Kalau tu’a golo dan tu’a teno, besarnya (lingko atau sawahnya). Kalau warga yang biasa, rakyat yang biasa, kecil (lingkonya),” kata ibu dari tujuh orang anak tersebut.

Suami Mama juga memiliki cukup besar sawah di bawah sana, kendati tidak tahu pasti berapa luasnya. “Hasilnya satu ton lebih,” kata Mama tentang sawah itu suaminya itu. “Karena dia punya bapak itu ada tu’a golo (tuan tanah).

Panen raya di bulan lima

Panen raya akan hadir di bulan lima, Mei. Namun, keluarga Mama Susana dan kebanyakan pemilik sawah di situ tidak menjual hasil panen padinya. Mereka pilih memakannya sendiri. “Kecuali kopi kalau banyak, semua dijual ke China. Kalau kepepet tidak ada uang baru kami harus jual (padi).”

Daripada beras, menurut Mama lebih baik dia menjual ayam, babi, atau sapi. “Kami orang dari Flores tidak cukup kalau hasil segitu. Lebih banyak ongkos kerjanya daripada hasilnya. Beda, di Lembor sesuai uang keluar dengan pemasukan. Di sini, aiii susah sekali.”

Maksud Mama, di Lembor biasanya padi panen sebanyak tiga kali dalam satu tahun. Sementara, di Cancar hanya satu kali saja. “Tanah di bawah itu, cuma tunggu air hujan baru dia ada air. Kalau musim kering tidak ada (air), sudah dia, tidak jadi kelang.”

Itu sebabnya, Mama banyak memelihara manuk atau ayam, dan babi sebagai usaha sampingan.

Saat panen tiba di bulan Mei, penduduk biasanya melakukan upacara panen padi. Ada potong kambing dan potong ayam. Demikian juga dengan musim tanam. Upacara dilakukan untuk memohon pada arwah nenek moyang, para tuan tanah dahulu. Istilahnya memberikan para leluhur ini ‘makanan’.

“Kalau kita tidak kasih makan mereka, banyak mimpi. Mimpi yang tidak bagus semua, dan (sawah) tidak beri hasil. Harus ada harganya (sesajian), sembahyang dengan doa, (sesajen) ayam, kambing. Kalau tidak ada ayam atau kambing, pakai telur (ayam) kampung.”  


Sentra persawahan Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur membentang melingkari pemukiman penduduk di Kelurahan Wae Belang Cancar, Desa Meler, Pong Lale, Belang Turi, Pong Leko serta Desa Bulan.

Lokasi subur seluas 1.500 hektar dan berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut itu menyimpan pesona tiada tara berkat keberadaan delapan bulatan raksasa serupa jaring Laba-Laba.

Muasal kepingan karya spektakuler yang dinamakan Lodok itu konon terlahir dari adat istiadat setempat sehingga sawah jaring laba-laba dapat ditemukan di banyak tempat di Manggarai selain di Lingko Cara Cancar Kecamatan Ruteng.


Semburat keagungan panorama terpancar dari dasar petak-petak sawah yang berada 15 kilometer dari Ruteng Ibu Kota Kabupaten Manggarai mengundang perhatian pelancong domestik pun internasional.

Saban hari turis yang menjelajahi pulau Flores pasti mampir menikmati sawah permai “Lodok” yang indahnya bak Crop Circle buatan alien.

Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, naiklah ke atas bukit Cara atau mendaki dari Kampung Meler untuk meresapi keping-keping takjub sawah Lodok satu-satunya di jagat raya ini.


Berawal dari Tradisi Leluhur
Nenek moyang  Manggarai telah menggariskan sistem pembagian tanah dalam bentuk Lodok dengan titik nol berada di tengah-tengah lahan ulayat yang akan dibagi-bagi.

Polanya dengan menarik garis panjang dari titik tengah (Lodok) hingga ke bidang terluar (Cicing) dengan patron khas Lodok yakni kecil di dalam besar di luar atau layaknya formasi mirip jaring laba-laba.

Kewenangan untuk membagi tanah komunal ada pada kuasa Tu’a Teno. Sehingga diawal mula pembagian dibuatkan ritus kecil ‘Tente Teno’ atau menancapkan pohon Teno di titik episentrum Lodok. Darah kambing ditumpahkan diatas kayu Teno wujud simbolisasi pengesahan secara adat.

Frans B.Kenaru, tokoh Kampung Rentung Desa Belang Turi menerangkan, konon pembagian tanah ulayat mengikuti rumus Moso (Jari Tangan). Ukuran Moso sangat relatif sesuai jumlah penerima tanah berikut keturunanya.

“Semakin banyak penerima lahan, makin kecil bidang tanah yang didapat. Beruntung sekali jika penerima sedikit karena tanah yang diperoleh pun besar. Dalam praktiknya Tu’a Golo atau tua Kampung serta Tu’a Teno mendapat porsi lebih besar dari warga biasa,” Kata Pensiunan guru kelahiran 1936 itu.

Namun, kata dia pembagian awal Moso diprioritaskan bagi petinggi kampung beserta keluarganya diikuti warga jelata dari masing-masing suku. Warga dari luar kampung pun, bisa mendapatkan tanah dengan mengajukan permohonan.

“Caranya dengan Kapu Manuk Lele Tuak atau membawakan seekor ayam dan sekendi tuak. Mintanya melalui sidang dewan kampung yang di pimpin Tu’a Golo lalu disahkan oleh Tu’a Teno,” terang Frans.

Karya Tangan Raja
Frans Kenaru mengaku menukil kisah sawah lodok dari cerita mendiang ayahnya Magnus Ngabut, kelahiran 1920.

Menurut Frans, bentangan sawah dengan delapan Lodok di Lingko Cancar merupakan jejak karya tangan raja Aleksander Baruk yang memimpin bumi Nusa Lale Manggarai tahun 1931-1945.

“Sawah perdana Manggarai adanya di Lingko Loro dekat Rentung dan Nugi dekat Cancar. Sejak awal pembagianya tetap pola Lodok. Orang dulu sebutnya sawa sonto sekarang contoh tidak lebih dari 100 hektar luasnya,” ujar Frans.

Meski masih dibayang-bayangi kekuasaan kolonial Belanda, namun Raja Baruk terus mendorong pertanian padi dan kopi dan mengirim banyak orang belajar bercocok tanam di Singaraja (sekarang Bali).

“Masa kecil kami dulu begitu pilu. Menu hari-hari Ubi atau gaplek dari ubi. Waktu muda baru tau makan nasi itupun amat jarang. Nasi baru dimakan jika ada tamu,” tutur pria yang akrab disapa Guru Frans tersebut.

Kabupaten Manggarai saat ini merupakan lumbung padi untuk Propinsi Nusa Tenggara Timur. Bagaimana tidak, dari total 1.915,62 kilometer persegi luas wilayah yang berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut itu,  areal persawahan meraup porsi tinggi mencapai 12.585 hektar tersebar di 12 Kecamatan.

Dinas Tanaman Pangan Dan Holtikultura Kabupaten Manggarai tahun 2015 mencatat, produksi padi pada paruh pertama musim panen tembus ke angka 115.000 ton gabah atau 66.000 ton beras dengan surplus beras mencapai 28.000 ton.

Pencapaian itu tidak terlepas dari support Pemda setempat dan kerja keras 40.000 petani yang tergabung dalam 500 kelompok tani.

 

Lodok Swah Berbentuk Jaring Laba Laba,, Didesa Cancar, Ruteng Nusa Tenggara Timur,,, (EnnyCkhe FloRyydha)- Facebook
Lodok, Sawah 'Jaring Laba-Laba' yang Mempesona Di Desa Cancar Ruteng

Lodok, Sawah 'Jaring Laba-Laba' yang Mempesona Di Desa Cancar Ruteng


Seorang blogger pas pasan, skill dibawah rata rata. Blogger yang membagikan artikel  tentang NTT dan artikel lainnya dan kiranya bermamfaat. BAGI YANG MAU BERGABUNG JADI KONTRIBUTOR BLOG INI, SILAHKAN KONTAK SAYA PADA LAMAN KONTAK YANG SUDAH SAYA SEDIAKAN. 

۝ Peraturan dalam berkomentar :

☛ UpsS,. Budayakan berkomentar sesudah membaca artikel sob.
☛ Dilarang Menghina, Promosi (Iklan), Menyelipkan Link Aktiv, dsb.
☛ Dilarang berkomentar berbau Porno, Spam, Sara, Politic, Profokasi.
☛ Berkomentarlah yang Sopan,Bijak, dan Sesuai Artikel (Dilarang OOT)
☛ Saya sangat berterima kasih atas semua yang mau berkomentar diblog saya.
☛ Saya PASTI akan berkunjung balik ke blog Sobat yang sudah mau berkomentar di sini.

Copyright © 2017 - Blogger NTT® Flobamorapedia.com✓

EmoticonEmoticon